Selasa, 16 Januari 07 - oleh : RedaksiPKS-Kab.Bekasi OnLine : Rabi’
bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak
mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya
teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah
telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam
Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah
shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada
ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, " Apakah
orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan
menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat
buruklah apa yang mereka sangka itu! "
Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan
kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal
shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam
shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.
Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua
sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh
oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah.
Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.
Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang
ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang
itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam
lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan
cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji
sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.
Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita
yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona.
Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh
dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’,
maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham.
Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk
pada pesona kecantikannya.
Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan.
Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat
sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera
yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa
siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu
rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.
Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang.
Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi
wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’,
"Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?" "
Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar." Jawab Rabi’
tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang
mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa
secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.
" Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak
terbiasa minum dengan berdiri." Kata wanita itu sambil memegang
cangkir. Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka
jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai
minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu.
Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain
hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan
kecantikannya.
Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan
tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, " Wahai
saudari, Allah berfirman, " Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke
tempat yang serendah-rendahnya. " Allah yang Maha pemurah telah
menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau
ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu
neraka?!
"Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta
padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang.
Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah
seperti ini ?!
"Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu,
apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap
Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada
malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa
mempertanggungjawabkan apa
yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?! "
Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu
menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya
menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia
langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari
rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu
terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai
akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan
berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget
mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, " Malaikat apa yang
menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita
cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat! "
Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu
sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba
ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali
nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa.
Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat.
Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah
padang pasir.
Sumber : Buku " Di Atas Sajadah Cinta. Kisah-Kisah Teladan Islami Peneguh Iman dan Penenteram Jiwa - Habiburrahman El Shirazy "